Andalan

First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Iklan

Salahkah Jika Dipribumikan? Oleh: Abdurrahman Wahid

Islam mengalami perubahan-perubahan besar dalam sejarahnya. Bukan ajarannya, melainkan penampilan kesejarahan itu sendiri, meliputi kelembagaannya. Mula-mula seorang nabi membawa risalah (pesan agama, bertumpu pada tauhid) bernama Muhammad, memimpin masyarakat muslim pertama. Lalu empat pengganti khalifah meneruskan kepemimpinannya berturut-turut. Pergolakan hebat akhirnya berujung pada sistem pemerintahan monarki.

Begitu banyak perkembangan terjadi. Sekarang ada sekian republik dan sekian kerajaan mengajukan klaim sebagai ‘negara Islam’. Ironisnya dengan ideologi politik yang bukan saja saling berbeda melainkan saling bertentangan dan masing-masing menyatakan diri sebagai ‘ideologi Islam’. Kalau di bidang politik terjadi ‘pemekaran’ serba beragam, walau sangat sporadis, seperti itu, apalagi di bidang-bidang lain.

Hukum agama masa awal Islam kemudian berkembang menjadi fiqh, yurisprudensi karya korps ulama pejabat pemerintah (qadi, mufti, dan hakim) dan ulama ‘non-korpri’. Kekayaan sangat beragam itu lalu disistematisasikan ke dalam beberapa buah mazhab fiqh, masing-masing dengan metodologi dan pemikiran hukum (legal theory) tersendiri.

Terkemudian lagi muncul pula deretan pembaharuan yang radikal, setengah radikal, dan sama sekali tidak radikal. Pembaharuan demi pembaharuan dilancarkan, semuanya mengajukan klaim memperbaiki fiqh dan menegakkan ‘hukum agama yang sebenarnya’, dinamakan Syari’ah. Padahal kaum pengikut fiqh dari berbagai mazhab itu juga menamai anutan mereka sebagai syari’ah.

Kalau di bidang politik – termasuk doktrin kenegaraan – dan hukum saja sudah begitu balau keadaannya, apalagi dibidang-bidang lain, pendidikan, budaya kemasyarakatan, dan seterusnya. Tampak sepintas lalu bahwa kaum muslimin terlibat dalam sengketa di semua aspek kehidupan, tanpa terputus-putus. Dan ini lalu dijadikan kambing hitam atas melemahnya posisi dan kekuatan masyarakat Islam.

Dengan sendirinya lalu muncul kedambaan akan pemulihan posisi dan kekuatan melalui pencarian paham yang menyatu dalam Islam, mengenai seluruh aspek kehidupan. Dibantu oleh komunikasi semakin lancar antara bangsa-bangsa muslim semenjak abad yang lalu, dan kekuatan petrodollar negara-negara Arab kaya minyak, kebutuhan akan ‘penyatuan’ pandangan itu akhirnya menampilkan diri dalam kecenderungan sangat kuat untuk menyeragamkan pandangan. Tampillah dengan demikian sosok tubuh baru: formalisme Islam. Masjid beratap genteng, yang sarat dengan simbolisasi lokalnya sendiri negeri kita, dituntut untuk ‘dikubahkan’. Budaya Wali Songo yang serba ‘Jawa’, Saudati Aceh,Tabut Pariaman, didesak ke pinggiran oleh kasidah berbahasa Arab dan juga MTQ yang berbahasa Arab: bahkan ikat kepala lokal (udengatau iket di Jawa ) harus mengalah kepada sorban ‘merah putih’ model Yasser Arafat.

Begitu juga hukum agama, harus diseragamkan dan diformalkan: harus ada sumber pengambilan formalnya, Al-Qur’an dan Hadist, padahal dahulu cukup dengan apa kata kiai. Pandangan kenegaraan dan ideologi politik tidak kalah dituntut harus ‘universal’; yang benar hanyalah paham Sayyid Qutb, Abul A’la al-Maududi atau Khomeini. Pendapat lain, yang sarat dengan latar belakang lokal masing-masing, mutlak dinyatakn salah.

Lalu, dalam keadaan demikian, tidakkah kehidupan kaum muslimin tercabut dari akar-akar budaya lokalnya? Tidakkah ia terlepas dari kerangka kesejarahan masing-masing tempat? Di Mesir, Suriah, Irak, dan Aljazair, Islam ‘dibuat’ menentang nasionalisme Arab – yang juga masing-masing bersimpang siur warna ideologinya.

Di India ia menolak wewenang mayoritas penduduk yang beragama Hindu, untuk menentukan bentuk kenegaraan yang diambil. Di Arab Saudi bahkan menumpas keinginan membaca buku-buku filsafat dan melarang penyimakan literatur tentang sosialisme. Di negeri kita sayup-sayup suara terdengar untuk menghadapkan Islam dengan Pancasila secara konfrontatif – yang sama bodohnya dengan upaya sementara pihak untuk menghadapkan Pancasila dengan Islam.

Anehkah kalau terbetik di hati adanya keinginan sederhana: bagaimana melestarikan akar budaya-budaya lokal yang telah memiliki Islam di negeri ini? Ketika orang-orang Kristen meninggalkan pola gereja kota kecil katedral ‘serba Gothik’ di kota-kota besar dan gereja kota kecil model Eropa, dan mencoba menggali Aritektur asli kita sebagai pola baru bangunan gereja, layakkah kaum muslimin lalu ‘berkubah’ model Timur Tengah dan India? Ketika Ekspresi kerohanian umat Hindu menemukan vitalitasnya pada gending tradisional Bali, dapatkah kaum muslimin ‘berkasidahan Arab’ dan melupakan ‘pujian’ berbahasa lokal tiap akan melakukan sembahyang?

Juga mengapa harus menggunakan kata ‘shalat’, kalau kata ‘sembahyang’ juga tidak kalah benarnya? Mengapakah harus ‘dimushalakan’, padahal dahulu toh cukup langgar atau surau? Belum lagi ulang tahun, yang baru terasa ‘sreg’ kalau dijadikan ‘milad’. Dahulu tuan guru atau kiai sekarang harus ustadz dan syekh, baru terasa berwibawa. Bukankah ini pertanda Islam tercabut dari lokalitas yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi ini?

Kesemua kenyataan di atas membawakan tuntutan untuk membalik arus perjalanan Islam di negeri kita, dari formalisme berbentuk ‘Arabisasi total’ menjadi kesadaran akan perlunya dipupuk kembali akar-akar budaya lokal dan kerangka kesejarahan kita sendiri, dalam mengembangkan kehidupan beragama Islam di negeri ini. Penulis menggunakan istilah ‘pribumisasi Islam’, karena kesulian mencari kata lain. ‘Domestikasi Islam terasa berbau politik, yaitu penjinakan sikap dan pengebirian pendirian.

Yang ‘dipribumikan’ adalah manifestasi kehidupan Islam belaka. Bukan ajaran yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formalnya. Tidak diperlukan ‘Qur’an Batak’ dan Hadis Jawa’. Islam tetap Islam, di mana saja berada. Namun tidak berarti semua harus disamakan ‘bentuk-luar’nya. Salahkah kalau Islam ‘dipribumikan’ sebagai manifestasi kehidupan?

*) Tulisan ini pernah dimuat Tempo, 16 Juli 1983

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas.

Setiap upaya menghalangi kebebasan manusia berarti bertentangan
dengan kehendak Tuhan.

Aku sangat heran
pada orang yang menganggap bahwa kehidupan adalah sesuatu, dan kebebasan adalah sesuatu yang lain. Ia tidak ingin memahami bahwa kebebasan merupakan pondasi pertama bagi kehidupan. Tidak ada
kehidupan tanpa kebebasan.

Setiap orang pasti mempertahankan kebebasan berpikir dan
kebebasan berekspresi. Ia akan selalu mempertahankan kebebasan
alaminya walau ia berada dalam penjara. Ia selalu mempertahankannya
dalam segala keadaan. Ia menjalani hidup di atas kebebasan tersebut
selama hayat masih dikandung badan. Setiap orang diciptakan
sebagai makhluk yang bebas; bebas berkehendak dan bebas menolak
atau menerima. Ia bebas dalam segala hal, bahkan bebas memilih
hidup atau mati. Akan tetapi kebebasan alami ini tidak akan berguna
dan tidak ada pengaruhnya ketika orang dipenjara, dilarang bicara,
dilarang menulis.

Mereka membangun filosofi dusta. Yang benar adalah orang
yang selalu merasakan kecenderungan untuk memajukan kehidupan
dalam segala aspeknya. Terutama soal kebebasan. Inilah yang kami
temukan pada seseorang yang baru keluar dari penjara yang ditahan
karena aktivitas berpikirnya.

Jika ada orang yang memilih hidup sebagai budak dan tidak
mau menjadi manusia yang bebas, maka itu merupakan contoh
anomali yang jarang terjadi bagi manusia secara umum. Kasus ini
bukan kaidah yang dapat dijadikan pegangan. Dalam hal ini kita dapat
melihat bukti empiris bahwa prinsip mempertahankan eksistensi
tanpa kebebasan tidak lebih sulit daripada mempertahankan eksisten
diri yang memuliakan kebebasannya. Orang dapat melihat pada masa
lalu bahwa tidak ada masyarakat yang diciptakan sebagai budak. Yang
ada adalah masyarakat yang telah membunuh kebebasan mereka
sendiri.

Dimana Kita Berdiri Tidaklah Penting

Dimana kita berdiri tidaklah penting, yang penting kemana kita akan Melangkah.

Siapa diri kita sekarang tidak penting, yang penting kita mau menjadi Siapa dengan pribadi yang bagaimana.

Siapa Orang Tua kita tidaklah penting, yang penting kita mau menjadi Anak yang bagaimana.

Masa lalu tidak penting, yang penting Hari ini dan Esok.

Bagaimana orang memandang kita tidaklah penting, yang penting bagaimana Kita memandang Orang lain, dan bagaimana kita memandang Diri Kita Sendiri.

Berapa besar Kepercayaan orang ditentukan oleh berapa besar Kejujuran dan Kredibilitas kita.

Buah yang bagaimana yang akan kita Petik ditentukan oleh bagaimana kita menanamnya.

Bagaimana sekarang kita Berproses, inilah yang akan menentukan Hasil Akhir dari semuanya.

Jangan kita mengharapkan orang lain untuk Berubah, jika Kita sendiri belum mau berubah Positif (sikap,kata-kata,pola pikir).

Sukses tidak selalu diukur dengan harta atau popularitas.

Sukses juga diukur “Kesehatan Mental”

Dunia yg dihuni manusia-manusia dengan pikiran merdeka.

Aku ingin, dunia ini dihuni oleh peradaban manusia yang menjunjung tinggi tegaknya kesetaraan, kebebasan dan multi-kultur.

Tidak ada perbudakan, penindasan, pengisapan dan penyanderaan kepentingan. Lelaki bebas memilih perempuan yg ingin dinikahi. Perempuan bebas memilih lelaki yg ingin diajak berumahtangga.Lelaki yg menghormati Istrinya, tidak Mengoleksi “rekan hidup” layaknya benda-objek jaman kebodohan.

Dunia yg dihuni manusia-manusia dengan pikiran merdeka. Dunia yg bukan hanya milik suatu kelompok gender saja, dunia yg adil dan menjamin kelangsungan kelompok yg berbeda. Dunia yg tidak kagok pada perbedaan, dunia yg dipenuhi kebudayaan berfilsafat oleh tiap penghuninya.

Dunia yg tidak ada persekusi, represi, tirani dan eksploitasi manusia atas manusia. Aku mendambakan masyarakat dunia yg tidak hanya rutin makan-minum-sex-tidur-belanja-makan, tapi juga warga dunia yg tiap hari meluangkan waktu untuk merenungkan kehidupan, memikirkan asal-muasal alam, eksistensi Tuhan dan tiap malam (kelompok Pemuda-Pemudi) saling bermusyawarah membahas bagaimana caranya memerangi korupsi, kemiskinan & tahayul.

Aku ingin Agama diperas, diolah, dielaborasi menjadi ajaran revolusioner yg mengajak orang yg dimanfaatkan orang lain untuk melawan dan merebut kembali hak-haknya dengan cara sejauh mungkin menghindari kekerasan.

Aku tidak ingin duniaku dikendalikan Penguasa yg memproduksi kebenaran tunggal. Biarkan masing-masing orang hidup dengan cara berpikir, etika dan kebenarannya masing-masing, asal tidak saling mengganggu dan rukun di atas muka bumi.

Dunia yg ku dambakan adalah dunia tanpa pemaksaan. Dunia tanpa mengurung anak manusia dirumah. Dunia dimana tiap individu bebas memakai baju model apapun untuk tubuhnya sendiri.

Dunia dimana hidup bukan untuk sekedar memburu kebutuhan fisik, tapi juga memberi asupan ilmu untuk akal dan kesadaran untuk jiwa. Dunia dimana orang-orang selalu siap bersedia andil dalam memprotes Pemimpin yg lalim. menggelorakan budaya protes bila dihianati dan menjunjung tinggi kesetiaan bila sudah mengucap janji.

Dunia dimana Perempuan se-aktif lelaki, perempuan menjadi pemimpin dimana-mana disegala bidang, dunia yg tidak dikuasai pemuja patriarkisme.Dunia dimana ada jutaan perempuan Aktivis, yang kapanpun menjumpai istri yg jadi korban KDRT, Suami mencampakkan istri, Istri dipermainkan, mereka siap berteriak dan memprotes membela kaumnya.

Bila sikap berani melawan sudah tertanam dalam peradaban manusia, khususnya kelompok gender yg sudah ribuan tahun ditempatkan sebagai “manusia peran figuran”, maka Aku akan meninggal dengan tenang.

Arwahku meski belum puas, tapi bangga meninggalkan kehidupan muka bumi yg sudah mulai menuju ke arah perbaikan menyeluruh dan masif.

MENDINGAN JADI ORANG BODOH

Hidup manusia adalah sebuah alur, sebuah putaran roda yang dimulai dari kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Selama proses kehidupan tersebut, manusia dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap macam macam hal yang lewat di alur hidupnya,belajar dan terus belajar, itulah hidup manusia.

Dari hasil belajar itu lalu kita menjadi tau terhadap hal-hal yang terjadi di kehidupan kita, banyak yang kemudian menjadi ahli , lalu mengajari orang lain, entah itu ahli dalam pekerjaan, ahli dalam cara berpikir, ahli dalam berorganisasi ataupun ahli agama.

Saat kita menjadi seorang ahli, seringkali ego ahli, ego senior merasuk ke diri kita, merasa diri ini pintar, merasa diri ini tau banyak. Namun tahukah anda, sebenarnya merasa ahli, merasa pintar, merasa senior itu sebenarnya berbahaya?

Dalam tahapan merasa ahli ini banyak yang kemudian berhenti belajar, berhenti bertanya, angkuh, lalu memandang rendah terhadap sesuatu yang dia anggap kecil dan tak sebanding dengan keahliannya, termasuk memandang remeh terhadap junior dan memandang remeh pekerjaan pekerjaan kecil, dan seseorang yang merasa ahli kemudian menjadi anti kritik dan tidak kritis lagi

Saat dia mendapatkan kritik dari orang yang dia pandang tidak sebesar dia, egonya akan naik lalu alih-alih memandang kritik tersebut sebagai sebuah masukan, dia malah memandang kritik tersebut sebagai penghinaan, sebagai pelecehan terhadap apa yang dia yakini sebagai keahliannya.

Dia akan berusaha membentengi dirinya dari perasaan dilecehkan tersebut, mencari cari pembenaran terhadap sikapnya dan mengabaikan kritik yang masuk, walau sebenarnya di dalam hati dia tau kritik itu benar namun dia tak mau mengakuinya.

Ego itu pun akan membuat dia tidak kritis terhadap keanehan-keanehan di sekitarnya, karena perhatiannya seringkali hanya terpusat pada hal-hal yang dia anggap layak untuk dia perhatikan, dan bukan tidak mungkin hal ini akan membuat dia mudah terjebak.

Karena orang yang merasa pintar seringkali merasa malu untuk bertanya, terutama bila yang dipertanyakan adalah hal yang dianggapnya remeh,kecil atau lebih diketahui juniornya.

Sungguh teramat beda sekali dengan sikap yang di tunjukan sewaktu masih amatiran, masih pemula, masih bodoh. Si bodoh tidak akan berhenti belajar karena dia merasa masih membutuhkan pelajaran yang lebih dan lebih lagi.

Si amatir tidak akan menyombongkan dirinya, karena dia tidak merasa pantas untuk bersikap sombong, pemula tak akan merasa malu untuk bertanya, sekalipun itu hal hal yang remeh dan kecil, jika dirasa aneh dan dia tak mengetahui jawabnya. Dengan begitu, junior ini justru akan lebih waspada dibanding dia yang merasa dirinya ahli dan senior.

Maka dari itu, tetaplah dalam hidup ini anda harus merasa menjadi seorang pemula, jangan merasa ahli, sehingga mau untuk teruslah belajar dan tidak menganggap remeh orang lain.

Kami Indonesia dan Kami Pancasila

Kita tengah menyaksikan kemerosotan etika moral dan integritas yang melanda para pejabat di lembaga-lembaga (eksekutif, yudikatif, legislatif) dan juga masyarakat luas. Pancasila sebagai dasar negara, memang perlu dihayati dan menjadi warna dari keseharian kehidupan masyarakat, kehidupan penyelenggaraan negara dan kebijakan negara.

Pancasila seharusnya menjadi yang dianut dan dihormati masyarakat. Upaya itu telah diusahakan sejak duluh melalui poda indoktrinasi dan penalaran serta kegiatan pendidikan formal. Tapi kita menyaksikan kehidupan yang pancasilais terus menyebar dan meningkat. Contoh, keteladanan memang lebih mudah diserap masyarakat dari pada teori-teori yang kering.

Dengan contoh suri teladan para pejuang bangsa, diharapkan dapat lebih efektif mendorong nilai-nilai Pancasila dikalangan pelajar, masyarakat luas dan para penyelenggara Negara. keteladanan itu adalah nilai yang operasional, bukan sekedar kata-kata mutiara. Artinya, selain bersifat inspiratif juga aplikasi. Begitulah pancasila, yang berfungsi sebagai sumber keteladanan bagi kita semua.

Pancasila merupakan kontruksi gagasan yang dirancang penuh keseriusan oleh Bung Karno. Bahan bakunya, yaitu nilai-nilai yang nyata-nyata hidup dan bekerja dalam masyarakat. Bung Karbo melakukan kristalisasi nilai-nilai tersebut secara paripurna. Sayangnya, penghormatan kita kepada pancasila justru menempatkannya sebatas teks sakral yang kosong. Bahkan, didegradasikan menjadi alat kekuasaan.

Pengalaman traumatik itu mengantarkan kita pada kegetiran yang mengenaskan. Pasca Reformasi 1998, bangsa ini seolah-olah dalam situasi vakum ideologi. Kesalah itu karena pancasila direduksi melalui metode hafalan, sehingga impresinya hilang.

SENIOR PAYAH

Mungkin kita udah gak heran lagi hal-hal kayak gini karena mungkin kita pernah jadi junior yang sedang disiksa atau jadi senior yang suka menyiksa. Ya, ini adalah siklus.

Tapi apakah kalian semua sadar kalau itu adalah sifat dari dalam diri kita yang ingin memperbudak orang lain? Budak? Itu kan zaman dulu, tapi sekarang warisan-warisan itu masih ada. 

Budak, itu udah ada di seluruh dunia pada masa lalu, tapi emang yang rame itu ada di Arab. Meskipun agama berusaha menghapus perbudakan tapi tetep aja perbudakan itu ada terus.

Sekarang budak udah gak ada. USA menghapus perbudakan tahun 1865, Belanda 1863, Arab Saudi baru tahun 1962. Gila dari zaman dulu sampai sekarang baru tahun 60-an perbudakan itu resmi hilang. Emang jahat manusia. Apakah iyah  perbudakan udah ilang? Gimana kalian nyebut junior yang kalian siksa itu bukan perbudakan? Gimana kalian ngerjain habis-habisan junior di waktu perkaderan atau menyuruh mereka kepada sesuatu yang tidak mereka pahami itu bukan perbudakan? 

Seharusnya senior itu itu.hadir untuk junior nya untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Semoga kalian yang selalu mengaku senior sadar dengan apa yang kalian lakukan dan tulisan ini menjadi renungan untuk kalian yang suka menyiksa juniormu.

Manusia Yang Merdeka

Betapa banya saya melihat manusia yang menuhankan Tuhan- tuhan kecil, sehingga kebebasan yang dia miliki terbatas. ​Tindakan dan sikap hidup yang dimikili oleh manusia seharusnya, tidak berada dalam tekanan atau ketakutan. 

Betapa banyak orang hidup berada dalam tekanan, misalnya kemiskinan, budaya, keluarga atau bahkan kematian, yang karena itu ia takut menyuarakan kebenaran. Namun jika seseorang selalu istiqomah di jalan Allah dengan beriman dan beramal, maka situasi yang menekannya akan berubah menjadi dan jadilah ia manusia-manusia yang bebas. 

Manusia yang bebas secara sadar dapat menyalurkan inisiatif dan kreasinya serta mampu mengkonstatir pada setiap transformasi natural, dan terutama transformasi sosial. Dengan demikian mereka adalah manusia-manusia yang secara sadar representatif, mampu memerahkan diri sebagai pemegang amanah khalifatullah fil ard.

Curahan Hati Perempuan Penghibur

Begitu banyak praktek-praktek prostitusi yang ada di sekitar tempat tinggalku, Setiap hari aku resah melihat kelakuannya, sampai aku ingin mengahajarnya dan di setiap kali aku bangun tidur di  pagi hari aku melihat sosok  wanita tersebut.

Tapi apalah daya ketika aku ingin memberikan suatu nasehat kepada mereka. Di suatu ketika di pagi hari itu, wanita tersebut duduk di sampingku.

Aku duduk sambil menikmati secangkir kopi hangat yang barusan aku seduh dari kamar kossan temanku dan sebungkus rokok yang ada di samping gelas  kopi tersebut dan satu batang yang sudah ku nikmati rokok tersebut.

Pagi itupun  aku  berbincang sama wanita yang melakukan kegiatan tersebut. kami berbincang-bincang cukup serius sekali dan setelah cukup lama kami mengobrol dan aku semakin penasarannya sama profesinya tersebut.

Aku memberanikan  bertanya kepada wanita itu dan tidak mengurangi rasa canggung ku kepadanya. Aku mempetanyakan hal yang  mungkin menyinggung perasaannya juga, tampa mengurangi rasa penasaranku aku mempertanya kepadanya:

saya : Apa yang mendorongmu sehingga ada dalam benakmu untuk melakukan hal yang terlarang itu setiap malam?.

Wanita: Mau bagaimana lagi, karna dorongan hiduplah yang mendesakku untuk melakukan perbuatan  seperti ini, aku tau ini dosa besar bagiku dan Tuhan sekali pun mengutuk kelakuanku ini, Kalau aku tidak melakukan hal ini, maka aku akan mati kelaparan dan menjadi gelandangan yang hidup di pinggir jalan, sedangkan aku tak punya siapa-siapa lagi, bapak dan ibuku berpisah semenjak usia ku sepuluh tahun dan aku di telantarkan mengaduh nasib di pinggir jalan menjadi gelandangan. Aku hanya bisa mempertaruhkan nasib ku Menjadi  seperti ini dan akan seterusnya menjadi seorang pelacur meski yang aku tau yang aku lakukan itu dosa besar dan haram hukunnya untuk di lakukan.

Saya: kasian juga  hidupmu yaa kamu yang sabar yaa.

Wanita: Dan aku ingin sekali memcari pekerjaan yang halal, tapi perkerjaan yang halal itu sangat sulit di dapat bagi orang sepertiku, apalagi aku hanyalah lulusan SMA, sedangkan ijazah SMA di Indonesia ini tidak begitu dipakai lagi, apalagi ijazah SMA, ijazah Sarjana itupun tidak ada harganya lagi.  Bisa kita lihat di sekitar kita masih banyak sarjana-sarjana muda yang hidup pengangguran dan ada pula  yang pulang ke kampung halaman, menjadi petani, buruh kasar, dan nelayan. Apalagi aku hanya lulusan SMA yang tak punya keahlian apa-apa coba kau tengok di sekelilingmu dan inilah yang bisa aku kerjakan dan aku jadikan sebagai profesi tetapku.

Meskipun setiap malam air mata ini selalu menetes,  menangis dan meritis merasa bagaikan seekor binatang  dan barang yang di perjual belikan, Untuk memuaskan nafsu pemodal yang berkantong tebal.Inilah negeriku, di janjikan sebagai tanah yang kaya akan pulau-pulau dan sumberdaya Alam yang melimpah luas di setiap penjuru. Pemerintah hanya mampu mengucap janji,  Pemerintah belum bisa menyediakan lapangan kerja yang bisa menampung orang seperti kami dan  untuk  masyarakatnya. Sehingga kami  mengambil jalan tengah untuk mencari lapangan kerja di luar negeri, itupun mereka menjadi buruh kasar di negeri orang, dan banyak juga mereka yang di siksa, di perkosa dan di bunuh di negeri orang.

Setelah aku mendengar ucapan pelacur tersebut aku merasa sadar betapa kejamnya hidup di negeri sendiri, di perlakukan sebagai budak dan sebagai pemuas nafsu hanya karna untuk menyambung hidup setiap hari dan rela menjual harga dirinya padahal itu adalah pusaka yang harus di jaga, tetapi mereka menjualnya demi sesuap nasi.

Begitu kejamnya negeri yang aku tinggali wanita tak ada harganya bagikan sayur yang di jajakan di pasar-pasaran yang tidak ternilai harganya. Minimnya lapangan kerja di indonesia, akhirnya orang berambil alih dan mengambil jalan pintas meskipun itu yang terlarang oleh agama, dan sangat merugikan generasi ibu pertiwi. Ribuan orang mempertaruhkan nyawanya di pinggir jalan, di kota tempat tinggalku, bermaca-macam suku, dan ras berpadu menjadi satu. Mereka memperuhkan hidupnya, dan menghabiskan waktunya di pinggir jalan dan bermacam-macam usaha di lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-har.

Ada yang bekerja menjadi malaikat dan  menjual nama tuhannya  dan ada juga yang bekerja menjelma menjadi Iblis melakukan kegitan yang tidak manusiawi. Rasa kemanusiaan dan rasa solidaritas antar sesama manusiapun tidak terlihat lagi di kota tempat tinggalku.

Banyak orang yang terjerumus oleh hitamnya hidup dan tersesat sehingga sulit untuk menemukan jalan menuju cahaya-Nya. Manusia tertipu akan mewahnya dunia sehingga mereka lupa akan kewajibannya sebagai manusia.

Untuk Apa Kuliah

Dulu, libur gak libur, jalan muluSekarang, libur gak libur, tugas mulu.

Inilah salah satu ungkapan yang menjadi beban berat bagi seorang mahasiswa dimasa kini, setiap hari waktunya dihabiskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Keadaan ini membuat mayoritas mahasiswa menjadi apatis terhadap dunia sekitarnya. Mahasiswa di gondok untuk mengerjakan semua tugas-tugas yang begitu banyak, sehingga jembatan orientasi mahasiswa hanya mengarah pada nilai akademik semata.

Menjadi siswa sekolahan, waktu demi waktu banyak dihabiskan oleh kehidupan duniawi semata, tidak peduli dari mana datangnya kehidupan yang dilalui itu, yang penting happy. Konsep “yang penting happy” inilah yang telah menina bobo-kan “kita” sebagai generasi bangsa sekian tahun lamanya, membuat sekian juta siswa lupa darimana ia mendapatkan pendidikan, dari mana ia mendapatkan beras, sembako dan lain sebagainya untuk dimakan serta keperluan sehari-hari lainnya.

Kini keadaan berubah, siswa yang dulunya lugu, bego, yang selalu melalui kehidupannya dengan konsep “yang penting happy” secara alamiah terus berkembang hingga melewati suatu keadaan yang disebut dinamika. Dinamika inilah yang kemudian mengantarkannya dari “siswa” menuju “mahasiswa”. Jelas antara siswa dan mahasiswa merupakan dua dunia yang berbeda, dunia siswa lebih banyak dipengaruhi oleh pengaruh mitos-mitos yang membawanya hidup dalam kesenangan sendiri. 

Ketika menjadi mahasiswa, kita dihadapkan pada beberapa konsep yang baru; mahasiswa itu agen of change, agen of social control, iron stock, serta satu hal yang tidak boleh dilupakan yakni dakwah. Empat konsep yang hanya terdapat dalam dunia pergerakan, namun hal ini terkadang justru menjadi momok menakutkan bagi setiap siswa yang baru saja mengalami transformasi ke mahasiswa, sehingga mereka memilih untuk tetap pada dirinya semula, berwujud mahasiswa tapi berjiwa siswa.

Banyak dari mahasiswa terkhusus mahasiswa baru yang mencoba menjauhkan diri dari empat konsep yang merupakan dunianya para mahasiswa (pergerakan). Padahal, jika saja kita mau mencoba meleburkan diri ke alam mahasiswa, kita akan menemukan dunia baru yang jauh lebih happy dari dunia-dunia yang pernah dilalui sebelumnya. Sebab dunia mahasiswa itu begitu indah, begitu romantis yang dapat mengantarkan setiap orang yang berada didalamnya menuju pada kebahagiaan. 

Kebahagiaan yang timbul dengan sendirinya berkat berjalannya jiwa perubahan, jiwa controlling, jiwa penerus serta dakwah yang membuat kita tau; siapa, darimana serta bagaimana sumber kehidupan yang selama ini kita gunakan. Salah satunya, dunia pergerakan membuat kita tau bahwa selama ini telah menjadi makhluk pintar yang dibodohi oleh pemimpin sendiri, tapi Allah selalu ada bersama kita beserta dengan segala kebaikan-Nya.

Keempat jiwa itu takkan pernah berjalan jika kita hanya terlena dalam kehidupan akademik kampus. Menghabiskan waktu dengan membaca, membuat tugas serta mendapat nilai bagus. Kita tidak mau ambil bagian dalam dunia pergerakan yang merupakan alam mahasiswa yang sebenarnya karena takut terlalu dikekang. Padahal dalam dunia pergerakan tidak pernah mengekang siapapun yang hidup didalamnya. 

Tentu saja sangat berbeda antara mahasiswa yang berjiwa siswa dengan mahasiswa pergerakan yang merupakan alam mahasiswa yang sebenarnya. Mahasiswa berjiwa siswa tampak berbeda dalam hal bicara serta menjawab, kata-kata mereka hanya buntu pada jawaban-jawaban yang bersifat teoritis semata sehingga terkesan kaku dan membosankan.

Sedangkan mahasiswa pergerakan, kata-kata mereka ibarat primadona yang diharapkan bagi setiap orang yang mendengarkannya, sebab kata-kata itu muncul dari mata, telinga, pikiran dan perasaannya, tidak hanya munculnya dari buku-buku yang dibaca. Maka tidak jarang, beberapa mahasiswa berjiwa siswa yang hanya berorientasi pada nilai semata dapat disingkirkan menjadi “sampah” dengan mudah oleh mahasiswa pergerakan. Jadi, ikut dalam suatu organisasi pergerakan tidak perlu ditakuti, karena ia bukan dunia kuburan yang banyak terdapat hantu didalamnya. Jangan takut hidup bersama alam pergerakan, sebab organisasi pergerakan tidak pernah mengekang siapapun juga. Kalau ada organisasi pergerakan yang mengekang kadernya dalam bertindak, itu bukanlah dunia pergerakan melainkan penjara. Dunia pergerakan adalah dunianya para mahasiswa sejati.